Kota Bitung | Rumah Anak Pesisir (Rasi) hadir sebagai ruang belajar nonformal bagi anak-anak yang tumbuh di kawasan pesisir Bitung, Sulawesi Utara. Program ini diinisiasi Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi melalui Integrated Terminal (IT) Bitung sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan. Kehadirannya memperluas kesempatan anak untuk belajar di luar kegiatan sekolah, sekaligus menyediakan tempat yang mendorong mereka mengenali lingkungan dan kehidupan di sekitarnya.
Rasi dibangun bersama kelompok masyarakat binaan, relawan, serta pemangku kepentingan lokal. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk kegiatan yang dekat dengan kebutuhan anak dan kondisi masyarakat setempat. Dengan keterlibatan berbagai pihak, ruang belajar ini tidak hanya menjadi tempat untuk menerima materi, tetapi juga wadah interaksi, berbagi pengalaman, dan menumbuhkan kepedulian. Anak-anak dapat mengikuti proses belajar yang menghubungkan pengetahuan dengan keseharian mereka di wilayah pesisir.
Area Manager Communication Relations and CSR Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, menjelaskan bahwa program ini bertujuan mengenalkan kepada anak-anak nilai lingkungan tempat mereka tumbuh. Pemahaman tersebut penting agar mereka melihat lingkungan pesisir bukan sekadar latar kehidupan, melainkan bagian yang berkaitan dengan kesejahteraan dan masa depan mereka. Pengenalan sejak dini diharapkan membantu anak memahami hubungan tindakan manusia, kondisi alam, dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Melalui Rasi, pembelajaran lingkungan dapat disampaikan secara lebih dekat dengan pengalaman anak, termasuk kehidupan sehari-hari di kawasan pesisir. Ruang ini juga membuka peluang bagi relawan dan masyarakat untuk mendampingi proses belajar serta berbagi pengetahuan lokal. Dengan demikian, program tidak hanya berfokus pada kegiatan sesaat, tetapi turut membangun kebiasaan bertanya, belajar, dan peduli terhadap lingkungan. Dukungan bersama diharapkan menjaga keberlanjutan ruang belajar serta memperkuat peran anak sebagai bagian dari komunitas pesisir Bitung yang akan turut menentukan masa depan wilayahnya.
Sejak mulai berjalan pada 2023, Rasi menjadi ruang belajar dan bertumbuh bagi lebih dari 145 anak di kawasan permukiman Candi, Lingkungan III, Kelurahan Bitung Barat 1, Kota Bitung. Kehadiran program ini memberi anak-anak kesempatan untuk mengenal lingkungan tempat mereka tinggal melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di kawasan pesisir, pengalaman belajar tidak berhenti pada penjelasan di dalam ruang, tetapi berhubungan dengan laut, permukiman, dan kondisi alam yang mereka jumpai setiap hari. Rasi mengajak anak untuk memperhatikan lingkungan sekitar serta memahami bahwa tindakan kecil dapat ikut membentuk masa depan kawasan mereka.
Pengetahuan tentang lingkungan merupakan salah satu bagian penting dari kegiatan Rasi, tetapi bukan satu-satunya tujuan. Anak-anak juga diajak memandang pesisir sebagai bagian dari identitas mereka, bukan sekadar latar tempat tinggal. Kehidupan masyarakat setempat terhubung dengan laut dan lingkungan pesisir, yang turut menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang. Dengan memahami hubungan tersebut, anak dapat melihat alasan mengapa lingkungan perlu dirawat dan dilindungi. Pesisir juga merupakan warisan yang perlu dijaga agar tetap memberi manfaat bagi generasi berikutnya. Pemahaman ini diharapkan tumbuh melalui proses belajar yang berkelanjutan, memberi ruang bagi anak untuk bertanya, mengenali keadaan di sekitarnya, dan membangun kepedulian dari pengalaman mereka sendiri.
Bagi Lilik, penting untuk menumbuhkan generasi yang peduli terhadap lingkungan sekaligus berani mengambil peran dalam menjaganya. Kepedulian itu dapat dimulai dari kedekatan dengan tempat tinggal, lalu berkembang menjadi kesadaran bahwa lingkungan pesisir adalah tanggung jawab bersama. Anak-anak diharapkan tidak hanya mengetahui persoalan yang terjadi, tetapi juga memiliki keberanian untuk menjaga lingkungan dan mengajak orang lain melakukan hal serupa. Dari ruang belajar seperti Rasi, mereka dapat tumbuh menjadi bagian dari perubahan di komunitasnya. Harapan tersebut bukan hanya tentang tindakan sesaat, melainkan tentang membangun sikap yang bertahan hingga dewasa. Dengan melibatkan anak dalam proses belajar dan merawat lingkungan, Rasi menanamkan dasar agar mereka mampu membawa perubahan bagi pesisir Bitung.
Di Rasi, pembelajaran lingkungan berangkat dari pengalaman langsung. Anak-anak tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi mengamati pesisir, mencoba kegiatan, berdiskusi, dan merasakan hubungan mereka dengan alam sekitar. Pendekatan experiential learning ini membantu materi menjadi dekat dengan kehidupan sehari-hari. Saat menemukan sampah di pantai, misalnya, anak dapat mengenali dampaknya sekaligus ikut mencari cara untuk mengurangi masalah tersebut.
Lebih dari 20 rangkaian aktivitas telah diselenggarakan dengan bentuk yang beragam. Kegiatannya meliputi Festival Anak Pesisir, misi pelestarian pesisir, aksi bersih pantai, pemetaan sampah, penanaman mangrove, pengamatan biota laut, dan pengenalan pasang surut. Anak-anak juga berlatih memilah sampah, mendaur ulang bahan bekas, membuat prakarya, menyusun poster, menulis cerita, serta mengikuti permainan edukatif. Ada pula jelajah pantai, eksperimen sederhana tentang air, pembuatan kompos, diskusi kelompok, kuis, lomba menggambar, lomba mewarnai, dan lomba pengetahuan lingkungan.
Rasi turut mengembangkan metode pembelajaran bagi pengajar dan tutor melalui lokakarya, berbagi praktik, serta simulasi mengajar. Dengan bekal tersebut, pendamping dapat merancang kegiatan yang sesuai dengan usia anak dan kondisi setempat. Program juga menghadirkan kampanye lingkungan serta peringatan hari besar, seperti Hari Lingkungan Hidup, Hari Laut Sedunia, dan Hari Anak. Setiap kegiatan memiliki tujuan belajar yang jelas, tetapi disampaikan melalui cara yang aktif, menyenangkan, dan bermakna.
Pelaksanaannya melibatkan relawan, pengajar, kelompok masyarakat, serta warga lokal. Kolaborasi ini memperkaya pengalaman anak sekaligus menghubungkan pembelajaran dengan pengetahuan dan kebutuhan komunitas pesisir. Warga dapat berbagi cerita mengenai perubahan lingkungan, sementara anak-anak menyampaikan gagasan dan hasil karya mereka. Dengan begitu, kegiatan Rasi bukan sekadar acara sesaat, melainkan ruang untuk mencoba, bekerja bersama, dan menumbuhkan kepedulian. Anak memperoleh kesempatan untuk memahami bahwa menjaga pesisir dapat dimulai melalui tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten, baik di lingkungan belajar maupun di rumah dan sekitar tempat tinggal mereka.
Di Rumah Cinta Kasih, proses belajar tentang lingkungan dirancang agar dekat dengan pengalaman sehari-hari anak. Founder Rumah Cinta Kasih, Jesiska Christi Sarempa, menjelaskan bahwa anak-anak diajak mengeksplorasi lingkungan sekitar, bukan hanya menerima materi di dalam ruangan. Mereka dapat mengamati keadaan pesisir, mengenali persoalan yang ada, lalu membicarakannya dengan cara yang sesuai usia. Pengalaman langsung membantu anak memahami bahwa lingkungan bukan sesuatu yang jauh, melainkan ruang hidup yang perlu dirawat bersama.
Pendekatan tersebut dilengkapi dengan permainan edukatif, prakarya, praktik, serta berbagai kegiatan kreatif. Melalui permainan, pesan tentang kebersihan dan kepedulian dapat disampaikan secara menyenangkan. Prakarya memberi kesempatan bagi anak untuk mengolah bahan dan menuangkan gagasan, sementara praktik mendorong mereka mencoba tindakan nyata. Kegiatan-kegiatan itu membuat proses belajar lebih partisipatif: anak tidak sekadar mendengar, tetapi ikut mengamati, bertanya, membuat, dan melakukan. Dengan demikian, edukasi lingkungan dapat terasa relevan sekaligus membangun rasa ingin tahu.
Bagi Jesiska, tujuan akhirnya bukan berhenti pada bertambahnya pengetahuan. Anak diharapkan membawa pemahaman tersebut ke dalam karakter dan kebiasaan, misalnya dengan menjaga kebersihan, menggunakan sumber daya secara bijak, serta mengajak orang lain peduli. Perubahan seperti ini memerlukan pendampingan yang konsisten dan ruang bagi anak untuk mempraktikkan apa yang dipelajari. Lilik juga berpandangan bahwa keberhasilan dan keberlanjutan program tidak semata-mata diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana. Hal yang tak kalah penting ialah perubahan yang benar-benar tumbuh di masyarakat dan tetap berlanjut setelah kegiatan selesai.
Baca juga: Inisiatif Prabowo untuk Lingkungan yang Lebih Hijau dan Bersih | Problema Lingkungan di Setu Cilodong: Tumpukan Sampah Mengemuka









